Thursday, 16 July 2015

Rumah



Rumah tak sesederhana apa yang Kamus Besar Bahasa Indonesia artikan. Bagi kebanyakan dari kita, rumah bukan hanya sekedar kata benda yang diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal saja, melebihi itu, rumah menjelma menjadi kata sifat, sesuatu yang melibatkan perasaan. 

Kita bukan lah siput yang selalu membawa rumahnya ke mana pun ia pergi. Hampir setiap hari kita pergi meninggalkan rumah dan menjadikannya sebagai arah tujuan untuk pulang. Seberapa hancurnya rumah kita, toh itu selalu menjadi tempat yang nyaman sebagai destinasi untuk pulang. Dan seberapa jauh jarak yang kita tempuh dan pergi melangkah meninggalkan rumah, kita selalu menemukan cara untuk pulang.

Lalu apa yang sebenarnya membuat rumah itu indah dan selalu kita rindukan? Suasananya, tempatnya atau orang yang ada di dalamnya?

Orson Scott Card dalam bukunya yang berjudul Hidden Empire menggambarkan rumah sebagai dunia yang sebenar- benarnya, dunia yang benar- benar nyata. Dan segala hal yang kita lakukan di luar semuaya bermuara ke dalam rumah. Sumber dari segala kebahagiaan. Segalanya yang berada di luar rumah, seperti pekerjaan, politik dan uang bukanlah hal yang ril yang benar- benar kita inginkan. Karena rumah telah memberikan kita segalanya yang kita butuhkan, rasa (ny)aman. Dan tak ayal, bagi sebagian orang terkadang rumah bukan lagi rumah ketika tak bisa lagi  memberikan rasa (ny)aman.

Atau bagaimana V.S Naipaul menggambarkan rumah dalam novelnya yang berjudul Sepetak Rumah Untuk Tuan Biswas (A House For Mr. Biswas). Mohun Biswas tokoh utama dalam novel tersebut menggambarkan rumah bukan hanya sebagai tempat ia berteduh dari panas dan hujan semata. Rumah baginya harus bisa memberika kebahagiaan. Maka Ia bersikeras untuk membangun rumah impiannya sendiri, rumah sebagai tempat eksistensinya sendiri. 

Oleh karena itu beberapa pergi jauh keluar dari rumah yang berkonteks bangunan berupa tempat tinggal dan menemukannya dalam pengembaraan serta petualangannya masing- masing. Definisi rumah menurut artian mereka sendiri yang tak sesederhana menurut KBBI. Karena terkadang untuk mencari ke dalam kita harus pergi jauh keluar. Dan di sana mereka menemukan apa yang mereka sebut rumah.

Seberapa sederhananya rumah yang kita tempati, tak dapat kita ingkari di dalamnya terdapat kompleksitas. Tak sesederhana apa yang KBBI artikan. Mungkin seperti apa yang Pidi Baiq katakan, karena rumah (Bandung) bukan hanya perkara soal geografis semata, di dalamnya melibatkan perasaan. Mungkin bukan pada bangunan atau tempat yang menjadi tujuan pulang, karena terkadang rumah adalah suasana, orang atau rasa nyaman yang mereka berikan. Rumah adalah sebuah tempat melankoli yang penuh dengan nostalgia, yang melahirkan keindahan dan harapan.



“Perhaps home is not a place but simply an irrevocable condition.” - James Baldwin




Tuesday, 9 June 2015

Layanan Musik Streaming, Penyelamat Industri Musik?



Dulu, kebanyakan dari kita banyak mengumpulkan lagu secara fisik, baik melalui kaset, CD atau piringan hitam, atau kombinasi di antaranya. Selain dapat menikmati lagu yang berada di dalamnya, kita juga disuguhi artwork yang menarik dari setiap rilisannya.

Selama belasan tahun industri musik dianggap berada dalam titik nadirnya, di mana kasus copyright infigment dan hak royalti menjadi persoalan yang banyak ditemukan di industri musik.

Di era yang serba digital sekarang ini, industri musik adalah salah satu industri yang hingga kini masih kesulitan beradaptasi dengan dunia internet dalam memonetisasi kontennya. Walau kini layanan musik streaming seperti Spotify, Pandora dan Deezer telah menjamur di mana- mana, aga prematur jika harus mengatakan bahwa layanan musik streaming memiliki masa depan yang cerah di industri musik.

Layanan musik streaming kini sedang menjadi trending topic di ranah dunia digital, setelah Jay-J dengan Tidal-nya (walau dianggap tidak sukses, karena dianggap tidak memberika fitur yang menarik dimana kita harus membayar $20 tiap bulannya dengan imbalan kita mendapatkan kualitas audio sebaik CD) ikut meramaikan layanan musik streaming, kini Apple ikut berlomba memasuki pasar yang dianggap mampu menyelamtkan industri musik dari kehancuran.



Layanan musik streaming dengan konsep freemium-nya dianggap dapat menyelamatkan industri musik dari ambang kehancuran. Dari fitur gratis tersebut, diharapkan para penikmat musik akan tertarik untuk meng-upgrade akun mereka, dengan membayar $5-15 (Tergantung layanan yang kalian gunakan, saya menggunakan Spotify dan menghabiskan sekitar $10/bulan dan VPN karena Spotify belum masuk ke Indonesia) untuk menikmati fasilitas yang tidak hadir dalam layanan freemium yang mereka tawarkan. Dari akun yang berbayar tersebut, perusahaan- perusahaan layanan musik streaming membayar hak cipta kepada pemilik lagu.

Tapi menariknya, walau dalam tahun 2014 saja Spotify sudah membayar royalti sebesar $1 triliun pada semua pemilik konten di layanan musik streaming tersebut. Masih ada saja musisi yang menganggap bahwa layanan musik streaming tak jauh berbeda dengan Napster--sebuah layanan peer-to-peer milik Sean Parker (co-founder Facebook) yang "sukses" merevolusi industri musik dunia.



Contohnya, Taylor Swift. Pelantun lagu Bad Blood tersebut menarik semua lagunya dari Spotify karena menganggap layanan musik streaming tersebut mirip Napster, karena memberikan layanan gratis ke semua orang alih- alih melawan pembajakan. Padahal jika Ia mau meriset lebih dalam, single Avicii yang berjudul "Wake Me Up" berhasil di-streaming sebanyak 339 juta kali di Spotify dan menghasilkan lebih banyak uang dari layanan musik streaming dibanding penjualan CD dan single-nya tersebut di itunes. Aloe Balaac, co-writer dari penulis lagu tersebut berhasil mendapatkan $12,359 dari hasil streaming lagu tersebut di Pandora. Penghasilan yang selama ini tidak didapat dari rilisan fisik.

Pengguna layanan musik streaming dari tahun ke tahun juga meningkat cukup pesat. Hingga tahun 2014 saja, pengguna aktif layanan musik streaming di Spotify sudah mencapai 60 juta user, dimana 15 juta diantaranya merupakan premium subsciber, dengan pengguna terbanyak berada di kawasan Eropa.


Bagi saya pelaku pasar, layanan musik streaming membuat saya mudah mendapatkan data dalam memonitor pasar. Dalam dua tahun terakhir saya menggunakan data yang diambil dari Soundcloud, Deezer, Youtube dan Bandcamp dalam memvalidasi pasar yang cukup ampuh menaikan jumlah penjualan baik CD maupun merchandise. Sementara hasil revenue dari layanan streaming masih belum sebesar dari penjualan rilisan fisik tapi setidaknya cukup untuk menutupi ongkos produksi rilisan fisik, untuk saat ini.

Lalu bagaimana nasib layanan musik streaming di Indonesia?

Beberapa perusahaan penyedia layanan musik streaming sudah melakukan penetrasi ke pasar Indonesia, di antarnya: Deezer, Guaverra, Rdio, Soundcloud dan MixRadio (Penyedia layanan musik streaming milik Line).

Walau arahnya sedang menuju ke sana tapi ada beberapa challanges yang dihadapi setiap penyedia layanan musik streaming yang ingin atau sudah masuk ke pasar Indonesia. Selain kualitas internet yang buruk (dengan alasan itu juga Google menjadikan Indonesia sebagai contoh di Google i/o) para penyedia, record label dan musisi harus mengedukasi pasar bahwa layanan musik streaming dapat menekan jumlah pembajakan dan memberikan musisi pendapatan sehingga mereka dapat terus berkarya.

Terlalu dini untuk mengatakan bahwa layanan musik streaming mampu menjadi Messiah industri musik yang telah berada dalam posisi dekaden dalam belasan tahun terakhir, tapi mengatakan bahwa layanan musik streaming bukan jawaban yang selama ini dicari juga terlalu gegabah, toh layanan musik streaming telah mampu menambah revenue yang selama ini tidak mampu didapatkan dari penjualan fisik semata.

Music industry is dead, long live music industry!



Tuesday, 21 April 2015

This Is What I learned After 5 Years In My Entrepreneurial Career.



I remember, six months ago I was in debt. I was in an emotionally vulnerable place while in the same time I had to finish my study (I don’t know which is good or not, but I was lucky that I can delay to finish it). I couldn’t afford to pay gas for my car. I lost my weight, stressed and just sleep 2-4 hours per day. I didnt know how to pay my employee. I was under pressure with a clausal from an investor for my startup company. I had a contract, a good mutual consent and then my co-founder ruins it. He took our money and THEN here I am.

I was in the same circumstance 4 years ago, I was in debt and hit by the stone but in the end I could handle it.

So what I did is just praying, calm and keeps moving on

And yes, I can bounce back. Things are changed.  I can buy toys and something that I dont need but I want.

This is what I learned after post-fucked-up-times-in-my-life
  
1. Learn how to take risk. Entrepreneurship is an unstable path to follow, to succeed, you have to take the leap and choose to fly. And you can only learn this lesson by doing it. Do not regret about decision you’ve made. Let it flow but make sure it wont end up in a dirty place. 


2. It’s not about the idea its about making the idea happens. Even if your idea and plans are solid, there is always a chance it will end up nothing. Yes, it's true that you need to do a lot of research beforehand. However, you can't predict what's going to happen when you launch your product or service. Make sure your product is MVP. Do some research, do the math!

3. The lines between your working life and your personal life will blur. You’ll start thinking about business even when you’re away from the office. 24/7. Even you are scheduling your work time from 9 to 5. There is always a chance you will think about your business. You will spend time at home and even on vacation, but you will always be on, thinking about your business.

4. Do not push yourself you could announce your success as soon as possible. Do not ever do that. It’s not about the destination, it’s about a journey. You will waste your time trying to prove that you are successful instead of focusing on your startup. Keep calm, dont make a rush decision but if you have to make a big decision make it quick and simple.

5. Someone will hate you. Like it or not, there will always be people who won’t like the way you do things, the decisions you make or the direction you're headed in. Do not  ever care so much about other think about you or the way you do.

6. Do not ever give up, not without a fight. Yes, it's true that there are times when giving up is the best or only choice to be made. But before you make a call about it, make sure you have done what best for you. 

7. Do not trust anyone. Even they are your family, best friend or something like that. 

8. Fail fast, fail early, fail often. You will fail, who doesn't? Failing sucks. There's no other way to describe it. But if you are going to fail, make it happen sooner than later. You can learn from all of your mistakes. I'm not succeed yet but things are changed. I can sleep 4-8 if I dont have class at 7 so I can sleep again after praying.

9. Dare to dream. Best thing what I learned in my entrepreneur career life. Dream bigger, work hard and make it happen. 

10. I am getting closer with my God. So it seems I pray only when I'm down. But it's true. If you dont have any shoulder to lay on God will help you with a thousand ways. He works with a mysterious way.



Sunday, 15 March 2015

#1 Jakarta, Absurditas dan Sisa Sisa Yang Diikhlaskan

Subuh masih menawarkan hening, adzan belum berkumandang dan orang- orang masih terlelap dalam mimpi. Tak ada yang spesial di hari itu, selain harus bergegas mengejar kereta pertama dengan tujuan ibu kota. 

Jakarta selalu mempunyai cerita. Pada setiap kebisingan di pagi hari, di kala lautan manusia secara serentak menjadi sekrup penggerak mesin perusahaan- perusahaan besar. Di rimba- rimba belantara dengan barisan beton yang menjelma menjadi pusat perbelanjaan dan perkantoran. Di lampu- lampu kota yang bersinar menggantikan matahari yang lelah menunjukan dirinya. Di taman- taman kota, di mana kenikmatan hadir hanya dalam semangkuk kecil tahu gejrot saja.

Bagi sebagian orang kota ini adalah mercusuar. Tempat mereka menggantungkan harapan.  Dimana mimpi dipersonifikasikan. Rezeki yang terporsi dibagikan sesuai peran. Ada yang recehan, ada yang miliaran. 

Belum banyak hal yang saya ikhlaskan di kota ini, selain seseorang dan jutaan rupiah yang dihabiskan hanya untuk belanja, makan dan membeli tiket untuk menonton band kesayangan. Pagi itu aga gerimis. Di bawah tiang besi yang besar dan papan reklame sebuah perusahaan rokok, saya dengan sabar menunggu jemputan yang terjebak kemacetan kota Jakarta. "Macet! Tak bisa bergerak" katanya. "Ah, kenapa tak pergi lebih awal. Ya udah, naik busway aja!" Balas saya. Karena waktu yang makin mendesak, saya memutuskan untuk menaiki busway saja.

Tak perlu waktu yang lama bagi saya untuk menyadari betapa ringkihnya ibu kota. Berdesakan di dalam Trans Jakarta bersama mereka yang mengais harapan. Kebanalan pengedara motor dalam setiap jengkal trotoar. Supir Metro Mini yang lupa di mana posisi pedal rem berada. Rumah- rumah kardus di bawah kolong jembatan. Juga ibu- ibu yang tak tahu alamat dan meminta uang "20 ribu saja buat ongkos pulang" yang tentu tidak saya berikan.

Barangkali sudah begini takdirnya kota ini, dihadapkan dengan segala tipe manusia dan keabsurditasannya. Tidak dapat dipisahkan. 

Kata teman, bermimpi itu membutuhkan nyali dan cuma bisa dilakukan oleh orang -orang yang berani. Cuma ada dua opsi. Bertarung habis- habisan atau kalah telanjang. 

Tapi pernahkah kita menyadari bahwa kita adalah sisa- sisa yang diikhlaskan? Doa- doa yang tak/belum menjadi nyata? Mimpi- mimpi yang untuk sementara waktu disimpan hanya untuk berkompromi dengan kehidupan? 

Ah, barangkali di antara kita sudah ada yang cukup dewasa dan mengerti bahwa hidup punya caranya sendiri dalam membawa kita tersesat dalam labirin. Dibenturkan harapan hingga muncul pertanyaan tentang layak atau tidaknya hidup ini diperjuangkan. Di saat itu kita dipaksa untuk membuat keputusan yang sama sekali tidak ekstensialis. Melakukan hal yang kita benci terus - menerus. Hingga hancur menabrak karang.

Kita tahu betapa kompleksnya hidup ini, saya juga pernah berjuang dan kalah, pernah disakiti, dihancurkan oleh harapan yang saya bangun dan saya pupuk sendiri.  Setelah itu semua, tak mudah bagi saya untuk bisa berdiri kembali.

Terkadang melihat tipisnya harapan, di suatu kondisi, di mana tak ada lagi jalan untuk memutar memang memuakan. Tapi selagi harapan itu masih ada, seberapa tipisnya itu, bukanlah soal. Harapan memang tak bisa dimakan, tapi setidaknya itu membuat kita bertahan. Satu- satunya kebaikan yang tersisa dari kotak yang dibuka Pandora.

Untuk kawan- kawan yang sedang berjuang diperantauan, jangan menyerah ada banyak jalan untuk "pulang".










Friday, 20 February 2015

Goddamn, Salad days

It was a glimpse of hope. Yes, it was. There is always thing that we, people as human being can't understand. 

I never had a plan to be an entrepreneur, seriously never was before. I had a dream job. When I was a kid I used to dream to be a football player or football coach, astronomer or a Physicist.  I do love science, especially , Geology, Physics and Biology. I'm good at subjects. My parents wanted me to be a Physician but I dont have any interest in this profesi-idaman-calon-mertua. I dont know, I passed into Faculty of Medicine in Unjani 7 years ago but I decided to take Geodetic in Itenas (I thought it was a geology) and it was horrible mistake and moved to Unisba. And then here I am, still looking a way out to finish my research/study and at the same I have to balance and manage my company ( I study at a law school with concentration in International Law and I took a subject in space law, moon mining, a bullshit thing that NASA wants to mine mineral in moon).

So 6 years ago without any experience in music business I decided to dive and startup a record label company. It was profitable until I ruined so many things.  Stabbed by partner, fucked-up bands and clients. Now things changed, I didnt do bootstrapping again, no more. Funded, it means I have debt! 

After one year in hiatus, we are back. We have 2 albums to be released this month. Organise a foreign band to do touring in Indonesia. And make a deal with a well-known record label that can sell their material album in just one day!

And then 5 months ago, a friend was calling me to be a co-founder in his startup. We decided to make a media news such as Mashable or Vice. But it never happened. He lost, without any single message, so I decided to do pivot. And make another startup company. It means you need to bootstraping again. 

Family, Do they understand?

It's a hell. Your family is always coming and asking about "how 'bout your research/study?", , " how is your startup going?", "how's big your company now?", "where's your girlfriend? your mommy wants a baby" and bla bla bla bullshit in family gathering. 

In case you dont know. Doing entrepreneur is a long journey, it is kinda like putting yourself in under so much pressure, and you fed up for telling other people to be calm and patient, because there is not a shortcut to climb a mountain.

Ali Mase is right, only an entreprenuer could understand an entreprenuer. I feel so comfortable when I sit next to my entrepreneur friends. They understand how big the pressure is. Need to calm and make sure you dont make rush decision. Do it properly and wisely. You sleep about 3-5 hours per day. Lack of money, and keep pushing yourself in to the limit. Ruins you love-life (I do). More drama. More painful days.

Is it worth?

Yes it is worth, finally after long battle and journey, there is always a glimpse of hope that leads you to see something clearly. 

It doesnt change drastically, I still sleep bout 4-6 per day but when I wake up, I see my ideas work. My life is getting better. I can pay my bill (again). Buy stuffs I dont need. Travelling. Ride my bike and take a nap for a while.

I have two plans after this, I gotta finish my study and take post-graduate at Space Law or Creative Business and study hard to get license to be copyright consultant.


There is an ancient quote that I like to put:

"A Smooth Sea Never Made a Skillful Sailor" 

or quote Sutan Sjahrir cites from Frederic Von Schiller 

"If you do not dare to die you will never win life" 


Saturday, 14 February 2015

Hari Valentine dan Budaya Seks Di Nusantara

Aga suram ketika bangun tidur subuh- subuh dan melihat televisi yang masih menyala (padahal jarang ditonton dan lupa dimatikan sehabis nonton bola) didalamnya ada dua orang yang sedang berdebat ihwal hari Valentine.

Dari dulu saya tidak pernah merayakan Valentine, kenapa? Karena bagi saya orang yang merayakan adalah orang yang ga ada kerjaan. Menolak juga tidak., kenapa? karena memang tidak penting. Tapi sampai sekarang saya tidak pernah habis pikir, sebegitu bahayakah Hari Valentine itu? 

Konon, hari valentine identik dengan seks bebas. Entah dari mana hipotesa ini muncul ? Apa dari hasil survey atau dari hasil data penelitian penjualan kondom di Hari Valentine ?

Banyak yang bilang Hari Valentine juga tidak sesuai dengan nilai- nilai ketimuran yang adiluhung ini? Tapi jargon ini membuat saya makin bingung, nilai- nilai ketimuran mana yang telah dilangkahi? Bukankah budaya Timur kerap mengeksplorasi hubungan seksual?

Dalam relief Karmawibangga yang berada di bagian bawah Candi Borobudur, secara gamblang menggambarkan posisi ideal dalam bercinta. Relief tersebut ditutup oleh pemerintah kolonial Belanda karena tidak sesuai dengan norma kerajaan Belanda.

Dalam tulisan Zen ini, yang mengutip isi cerita dari buku Babat Tanah Jawi diceritakan, Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II  yang notabene adalah kakaknya sendiri, dan dahsyatnya Pangeran Puger menghisap sperma dari kakaknya yang sudah menjadi mayat hanya untuk melegitimasi kekuasaannya. 

Ada lagi (tapi saya lupa membaca di mana) salah seorang seorang raja di kawasan nusantara yang mati terkena sipilis karena berhubungan badan dengan lebih dari seribu wanita tanpa lat pengaman (kondom dalam bentuk apapun mungkin belum sampai ke nusantara saat itu). Belum lagi kisah tentang Sultan Iskandar Muda yang meminta dibawakan dua wanita bule dari Inggris untuk memenuhi nafsu birahinya. Lalu ada Serat Centhini, yang secara lugas mengupas hubungan seksual di kalangan bangsawan- bangsawan Jawa.

Di majalah Historia pernah diceritakan, soal kegemaran Pakubowono X yang mengoleksi selir dalam memuaskan nafsu birahinya. Ada sekitar 40 selir yang menjadi alat pemuas nafsu birahinya. Konon, para Raja yang sudah menikah tetapi belum mempunyai selir tetap dianggap masih pejaka. Selain itu selir juga bisa menjadi alat legitimasi untuk meraih kekuasaan yang tak terbatas karena keluarga- keluara selir secara tidak langsung akan mendukung raja jika terjadi sesuatu yang merugikan raja.

Jangan lupa, selir- selir raja yang merupakan pemuas nafsu para raja jawa juga mempunyai peranan penting dalam melahirkan raja- raja di Nusantara. Nyai Karoh, yang merupakan selir Raden Mas Suryaputra (Amangkurat IV) melahirkan Pangeran Arya Mangkunegara. Yang kemudian memepunyai keturunan benama Raden Mas Said, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa alias Mangkunegara I.

Ada juga kakawin Hariwangsa yang merupakan syair dalam bahasa Jawa kuno, yang dengan secara secara eksplisit menggambarkan hubungan seksual sesama jenis para perempuan yang hidup di balik tembok keraton.

Jazirah arab mempunyai cerita semacam kamasutra dalam bentuk The Secret Garden of Eden. Lalu dalam Islam ada kitab Qurrat al-Uyun yang secara detail menggambarkan wanita mana yang ideal untul dinikahi melalui perspektif seksual dan juga membahas persoalan seks lainnya. Di India ada sebuah kitab yang terkenal Kamasutra yang menggambarkan posisi- posisi ideal dalam melakukan hubungan seksual.

Jujur saya, bagi saya pribadi melarang perayaan Valentine karena alasan seks bebas dan tidak sesuai dengan nilai- nilai ketimuran yang katanya adiluhung itu justru tidak masuk akal. Jika melihat fakta- fakta di atas, justru budaya kita yang katanya adiluhung ini telah lebih dulu mengekplorasi hubungan seksual. Alih- alih memberi edukasi soal pentingnya alat reproduksi, larang- larangan ini justru dapat membuat para siswa tersebut semakin tertantang untuk mencari tahu dan mencoba berhubungan badan. 

Bagi saya dibanding melarang siswa untuk merayakan valentine karena alasan seks bebas justru makin menjauhi nalar, alangkah baiknya jika pemerintah mau memasukan pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum. Agar apa? agar mereka yang konon katanya generasi penerus bangsa tahu, apa fungsi dari organ genitalnya lalu oleh siapa saja organ genitalnya boleh dipegang dan akan berakibat apa jika organ genitalnya dipakai sembarangan. 

Pendidikan alat reproduksi dapat menjadi alat pencegah atau early warning sehingga mereka tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan. Dibanding melarang suatu perayaan yang merupakan produk budaya luar yang sudah menjadi tradisi berabad- abad yang belum tentu melangkah pada perilaku seks bebas, karena toh yang melakukan maksiat tidak hanya di Hari Valentine, di hari- hari biasapun banyak. 

Tapi hal ini bukan berarti saya menghalalkan seks bebas. Saya mempunyai pandangan yang sama dengan Menteri Agama Lukman Hakim, we have to respect to those who celebrate, jika hal tersebut mempunyai hal dan tujuan yang baik. ( I have some friends from overseas, they celebrate Valentine's day to share some loves to the loved ones, like mother, father and the other family members like brother, sister, aunty etc.)

Karena moralitas lahir dari pribadi bukan dari paksaan dan tekanan. Acap kali, anak yang besar dari sebuah paksaan dan tekanan hanya melahirkan pembohong yang ulung. 


Wednesday, 10 December 2014

Senyap Yang Gaduh

Sore itu saya memaksakan diri menembus hujan yang deras. Sama dengan sore di hari- hari yang lainnya, kemacetan melanda setiap ruas jalan kota Bandung. Tepat pukul 17.00 pemutaran film Senyap karya sutradara Joshua Oppenheimer dimulai. Andri sudah menunggu di teras IFI, di sampingnya ada Firman dan seorang wanita yang tidak saya kenal. 

Bagi saya pribadi film ini tidak sebaik film sebelumnya, The Act of Killing. Entah karena film ini benar- benar Senyap (Koreksi saya jika salah, tapi saya tidak mendengar sama sekali lagu latar di film ini) atau ekspektasi saya terhadap fil ini terlalu berlebih. Entahlah, kecewa? tidak.

Film ini mengenalkan kita pada sosok Adi, yang kakaknya, Romli, Ketua Buruh Tani Indonesia yang menjadi korban pembataian G30S PKI. Ia dibunuh dengan keji oleh suatu satuan yang disebut Komando Aksi. Adi yang seorang optician mencoba menguak sejarah kelam lewat kaca mata yang ia tawarkan. Ia mendatangi satu persatu orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya tersebut. Sebuah metaphora yang cantik, menghadirkan tukang kaca mata sebagai korban dan memaksa pelaku penyiksaan untuk melihat dari sudut pandang korban.

Ada perasaan marah ketika seorang pembantai nyawa manusia masih dengan bebas berkeliaran dan bahkan menganggap dirinya sebagai pahlawan. Bahkan satu di antaranya secara berkala dipilih oleh rakyat menjadi ketua DPRD Deli Serdang.

Senyap banyak bercerita tentang rasa ikhlas, bagaimana manusia dipaksa harus belajar memafkan dan merelakan kepergian. Dan kita tahu, berdamai dengan masa lalu bukan lah hal yang gampang, itu semua membutuhkan proses yang panjang. 

Bagi saya film ini bukan lagi berbicara soal siapa yg salah dan benar, tapi soal bagaimana sejarah kelam itu tidak terulang, bagaimana suatu bangsa mau tidak mau harus menerima, bahwa mereka punya masa lalu yg kelam. Bagaimana sebuah peradaban menghargai perbedaan dan nyawa seseorang. Sebuah dosa yg harus ditanggung bersama. Tapi bukan berarti kita dengan mudah memaafkan para pelaku kejahatan kemanusian. Karena marawat kemanusiaan berarti merawat sebuah peradaban dan membiarkan kejahatan kemanusiaan berarti merawat kebanalan.