Saturday, 18 February 2012

Karena Sejarah Hanya Mencatat Nama Para Pemenang

-Sejarah itu sadis, terkadang begitu tak adil bagi para pecundang yang selalu hampir menang.

Yah, sejarah hanya menulis nama para pemenang dan sisanya diisi para pecundang. Setiap nama para pemenang selalu diabadikan dalam sejarah, dicatat dan diingat agar dunia menegenal mereka, tak peduli latar belakang mereka seperti apa. Saya, kamu, kita juga mungkin pernah mengalami dan merasakannya, begitu pula yang dirasakan timnas sepak bola negara kita Indonesia dan bekas penjajah kita Belanda yang selalu hampir jadi nomer 1 dan hampir selalu jadi juara.

Dunia mengenal Marthin Luther King sebagai seorang pemenang karena jasanya menaikan martabat kaum kulit hitam yang pada era-nya selalu dilecehkan dan dimarjinalkan. Dunia juga mengenal nama Michael Jordan sebagai seorang pemain basket ball yang berhasil memenangkan 6 gelar juara NBA, 2x juara Olimpiade bukan seorang pecundang yang disisihkan oleh temannya yang lebih tinggi 21 cm dari dirinya.

Dunia ini tak akan mengenal nama Isaac Newton andaikan ia tetap menjadi orang yang terbelakang dan dilecehkan oleh teman- teman sekolahnya, dengan alasan pembalasan dendam bagi teman- teman disekolahnya ia berusaha menjadi nomer 1, menemukan metode hitung- menghitung yang disebut kalkulus dan gaya gravitasi hingga sekolahnya merawat dengan baik tanda tangannya yang tersimpan dengan rapi diperpustakaan sekolahnya.

Dalam Piala Dunia sepak bola, nama- nama negara pemenang Piala Dunia terpatri dalam Piala buatan Silvio Gazzaniga tersebut, sementara nama negara yang menjadi juara ke dua hanya tertulis di wikipedia dan badan statistik olah raga. Padahal dalam prakteknya, para runner-up itu sama- sama bersusah payah mencoba menjadi juara hingga Tuhan berkata tidak.

Yah, sejarah memang sadis seolah- olah tak ada tempat bagi si nomer dua dan kerap tak adil bagi mereka yang kalah. Tak ada yang perlu dibanggakan jika anda selalu menjadi juara kedua, karena dilubuk hati yang terdalam selalu ada penyesalan kenapa tak bisa menjadi juara pertama disaat kesempatan itu ada, dan siapa yang rela menukar momen bersejarah dengan hanya menjadi nomer 2?

Sebelum kita menghembuskan nafas terkahir, ada baiknya untuk mencoba menjadi juara dan mencatatkan nama kita dalam sejarah....

History is written by the winners.

ALEX HALEY

No comments: