Wednesday, 10 December 2014

Senyap Yang Gaduh

Sore itu saya memaksakan diri menembus hujan yang deras. Sama dengan sore di hari- hari yang lainnya, kemacetan melanda setiap ruas jalan kota Bandung. Tepat pukul 17.00 pemutaran film Senyap karya sutradara Joshua Oppenheimer dimulai. Andri sudah menunggu di teras IFI, di sampingnya ada Firman dan seorang wanita yang tidak saya kenal. 

Bagi saya pribadi film ini tidak sebaik film sebelumnya, The Act of Killing. Entah karena film ini benar- benar Senyap (Koreksi saya jika salah, tapi saya tidak mendengar sama sekali lagu latar di film ini) atau ekspektasi saya terhadap fil ini terlalu berlebih. Entahlah, kecewa? tidak.

Film ini mengenalkan kita pada sosok Adi, yang kakaknya, Romli, Ketua Buruh Tani Indonesia yang menjadi korban pembataian G30S PKI. Ia dibunuh dengan keji oleh suatu satuan yang disebut Komando Aksi. Adi yang seorang optician mencoba menguak sejarah kelam lewat kaca mata yang ia tawarkan. Ia mendatangi satu persatu orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya tersebut. Sebuah metaphora yang cantik, menghadirkan tukang kaca mata sebagai korban dan memaksa pelaku penyiksaan untuk melihat dari sudut pandang korban.

Ada perasaan marah ketika seorang pembantai nyawa manusia masih dengan bebas berkeliaran dan bahkan menganggap dirinya sebagai pahlawan. Bahkan satu di antaranya secara berkala dipilih oleh rakyat menjadi ketua DPRD Deli Serdang.

Senyap banyak bercerita tentang rasa ikhlas, bagaimana manusia dipaksa harus belajar memafkan dan merelakan kepergian. Dan kita tahu, berdamai dengan masa lalu bukan lah hal yang gampang, itu semua membutuhkan proses yang panjang. 

Bagi saya film ini bukan lagi berbicara soal siapa yg salah dan benar, tapi soal bagaimana sejarah kelam itu tidak terulang, bagaimana suatu bangsa mau tidak mau harus menerima, bahwa mereka punya masa lalu yg kelam. Bagaimana sebuah peradaban menghargai perbedaan dan nyawa seseorang. Sebuah dosa yg harus ditanggung bersama. Tapi bukan berarti kita dengan mudah memaafkan para pelaku kejahatan kemanusian. Karena marawat kemanusiaan berarti merawat sebuah peradaban dan membiarkan kejahatan kemanusiaan berarti merawat kebanalan.







Monday, 10 November 2014

Interstellar: Dimensi ke-5 dan Kisah Cinta Kosmik Di Ruang Angkasa



Christoper Nolan kembali hadir dengan film terbarunya. Sutradara konvensional yang tidak mempunyai telepon genggam ini menawarkan penjelajahan hingga batas terluar galaksi Bima Sakti dalam film terbarunya, Interstellar. Walau bukan karya terbaik Nolan dan jalan ceritanya tidak serumit Memento dan Inception, tapi Interstellar layak ditonton dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Pada dasarnya film ini bercerita tentang keinginan manusia mempertahankan spesiesnya dari kepunahan dan kerusakan ekologi di planet Bumi dengan disisipi kisah cinta antara ayah dan anak yang tak lekang oleh ruang dan waktu. Dalam film ini Nolan bermain- main dengan dimensi waktu.

Selama ini konsep waktu memang menjadi perdebatan di kalangan fisikawan teoritis. Waktu merupakan dimensi yang sulit untuk diikuti dan dikendalikan oleh manusia hingga saat ini. Kita hanya bisa mengendarai waktu satu arah lurus ke depan tanpa bisa mundur ke belakang. Sebuah dimensi yang mengawang- ngawang tapi nyata adanya.

Sebagai bagian dari tatanan kosmos, kita tahu posisi kita di alam semesta ini, terombang- ambing di lautan galaksi yang luas tanpa tapal batas.

Sudah bukan rahasia lagi, sejak dulu manusia selalu mengajukan pertanyaan ekstensial akan bagaimana alam semesta ini berawal hingga bagaimana kita diciptakan? Walau agama telah memberi segala jawaban akan setiap pertanyaan tersebut tapi selalu ada ruang dalam diri manusia untuk mencari rasionalitas dari setiap pertanyaan yang mereka ajukan, bukan hanya berdasarkan dongeng dari kitab suci semata.

Sains mencoba menawarkan itu semua. Dengan segala keterbatasannya manusia mencoba bertahan hidup dan mencari tahu segala fenomena di alam semesta lewat sains. Mau tidak mau, terima tidak terima, selama ini teori- teori sains telah membawa kita menjelajah dasar lautan dan ruang angkasa tanpa tapal batas. Insting alami dari setiap mahluk hidup yang bernafas. Bertahan hidup. Dan Interstellar berbicara tentang itu semua.

Film ini bercerita tentang Cooper (Matthew McConaughey), seorang insinyur sekaligus pilot NASA yang menganggur karena tidak ada pekerjaan dan beralih profesi menjadi petani. Ia dipaksa memimpin ekspedisi Lazarus ke area terra nullius oleh Prof. Brand (Michael Caine) dengan ditemani oleh Amelia Brand (Anne Hathaway), Doyle (Wes Bentley), dan Romily (David Gyasi). Beserta dua robot yang berbentuk seperti monolith di 2001: A Space Odyssey, TARS (Bill Irwin) dan CASE (Jon Stewart) untuk menemukan rumah baru bagi manusia.

Ia meninggalkan seorang putri dengan rasa kecewa untuk mencoba menyelamatkan manusia dari kepunahan. Setelah planet- planet yang berhasil didatangi tak mampu menyokonng kehidupan bagi kelangsungan umat manusia di arena kosmik ini, Cooper mencoba menyelamatkan Amelia Brand dan membuat dirinya masuk ke dalam blackhole Gargantua dan terjebak di ruang 5 dimensi.

Sejatinya menurut fisika teoritik siapapun dan atau apapun yang masuk ke dalam blackhole akan hancur oleh singularitas. Tapi Nolan menolak untuk memasukan teori tersebut ke dalam filmnya. Di sana, Cooper masuk ke dalam tesseract dan menemukan putrinya yang sedang menangis meratapi kepergiannya dari balik lemari buku--yang Nolan analogikan buku- buku di lemari tersebut sebagai mesin waktu, perpanjangan tangan dari generasi ke generasi lainnya.

Dari sini Cooper mencoba mengirim pesan kepada anaknya dengan kode morse lewat buku- buku di lemari tersebut. Hantu yang selama ini Cooper mencoba cari tahu ternyata adalah dirinya sendiri.

Di film ini juga Nolan memberikan kisah cinta yang bagi saya cukup menarik. Ada line di mana Amelia mencoba memberi pandangan objektif perihal pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh mereka dalam memilih planet mana yang akan dituju, Love is the one thing that transcends time and space. Dan hanya cinta yang mampu menembus kokohnya tembok ruang dan waktu. Itulah yang Cooper rasakan ketika keinginannya untuk hidup dan kembali ke Bumi didasari rasa sayang kepada kedua anaknya terutama Murph, yang tak mengizinkan ia pergi menjelajah samudra ruang angkasa. 

Dalam film ini Nolan menyuguhi kita dengan visualisasi dan sinematografi yang sangat indah akan ruang angkasa. Ada bagian di mana Nolan memvisualisasikan blackhole dengan sangat baik, yang konon hampir mendekati asli. Tapi bagian favorit saya adalah ketika Endurance melewati Saturnus sebelum masuk menembus wormhole meninggalkan sistem tata surya kita. Visualisasi yang menajubkan dari tim grafis Nolan yang konon menghabiskan waktu render sekitar 100 jam dan kapasitas RAM sebesar 10 tb.

Jika kalian membayangkan fllm ini penuh adegan action seperti film Nolan sebelumnya, maka bersiaplah untuk kecewa. Nolan menghadirkan drama yang unik dalam Interstellar. Drama antar galaksi yang tak terbatas ruang dan waktu.
  
Mengingat banyaknya teori fisika teoritik yang disajikan oleh Nolan dan timnya, sebagai panduan sebelum menonton film ini, ada baiknya membaca buku A brief History of Time karya ilmuwan Stephen Hawking atau film buatan Kip Throne yang juga konsultan sains dalam film ini agar tidak blah- bloh di bioskop nanti.





Wednesday, 5 November 2014

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Judul di atas saya pinjam dari sebuah novel karya Eka Kurniawan dengan judul yang sama. Tak ada korelasi antara novel tersebut dengan rasa rindu yang saya punya. Tapi seperti judulnya, besok rindu ini harus dibayar tuntas.

Sudah lama, lebih dari dua dekade rindu ini selalu berjarak. Nanti, hari Jumat, 7 November 2014, jika tak ada aral melintang rindu ini akan terlampiaskan. 

Jarak selalu jadi bagian perihal rindu- rinduan, kini kita sudah dekat dan jarak bukan lagi soal, besok adalah jarak kita yang paling dekat untuk menuntaskan rindu yang selama 19 tahun tertahan dan terus menggebu ingin dilampiaskan.
Selama ini, saya selalu mendengar cerita- cerita epik di Gelora Bung Karno hanya dari bibir para orang tua yang merasakan kejayaan Persib di era Ligina. Saat itu saya masih terlalu muda untuk merasakan euphoria, perkenalan saya dengan sepak bola baru hadir 2 tahun kemudian. Saat rindu itu baru dimulai. 

Sama seperti sebagian besar warga Bandung lainnya, menjadi bobotoh adalah bawaan DNA, sudah tertanam sejak dari dalam kandungan. Menjadi pemain Persib adalah impian setiap anak kecil di Jawa Barat yang mencintai olah raga sepak bola. Maka dari itu, siapapun yang memakai seragam biru- biru di lapangan sepak bola dan bertanding atas nama Pangeran Biru adalah suatu kehormatan. Maka siapapun yang bertanding atas nama Persib di Jakabaring nanti, tolong jangan sia- siakan kehormatanmu itu. Untuk sekali ini saja, saya mohon menderitalah agar kau dan kami yang senantiasa mendukungmu ini, tahu bagaimana rasanya bertahta. Tahu bagaimana rasanya menjadi juara.

Saya tahu kalian membawa beban yang berat. Banyak harapan dari jutaan bobotoh menggantung di pundak kalian. Tapi besok, jika kalian menang, sejarah akan mencatat nama kalian.

Jika kalian menang dan berhasil membawa pulang Piala Presiden itu ke tanah Pasundan, ada jutaan orang yang akan berterima kasih kepada kalian. Nama kalian akan selalu dikenang, terpatri dalam memori setiap warga Jawa Barat.

Bukan hanya kenangan kalian juga akan dibanjiri bonus yang melimpah. Gelontoran rupiah akan masuk ke dalam rekening tabungan kalian. Tapi saya mohon untuk kali ini saja, bertandinglah atas nama jutaan bobotoh yang selalu mendukung di belakang kalian.  Bukan atas limpahan bonus yang akan kalian dapat. Menderitalah untuk kami yang rindu jadi juara dan saya mohon jangan pernah tukarkan momen itu dengan apapun.

Bagi mereka yang pernah merasakan euporia di tahun 95, ini adalah sebuah kerinduan yang harus dituntaskan. Tapi bagi mereka yang belum pernah merasakan, ini adalah sebuah penantian yang panjang.

Tapi rindu tetaplah rindu, seperti dendam, rindu juga harus dibayar tuntas!


Monday, 27 October 2014

Karena Menulis adalah Mencatat Keabadian

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” - Pramoedya Ananta Toer

Setidaknya begitulah kata Pram. Menulis merupakan suatu proses ekstensialis seseorang. Menulis tidak semudah berbicara, karena dengan menulis, sadar atau tidak, kita sedang mendokumentasikan keabadian.

Saya mulai belajar menulis ketika masih SMP, ada sekitar 16 tulisan yang mejeng di beberapa surat kabar nasional, seperti Pikiran Rakyat dan Kompas. Walau jumlah buku yang dibaca kian banyak dan ngejelimet tapi jumlah tulisan justru mulai berkurang. Perlahan nafsu menulis memudar ketika memasuki masa kuliah. Cuma 2 tulisan yang tembus media nasional dan 3 mejeng di sebuah majalah lokal. Sisanya terbit di blog.

Tapi 3 tahun ke belakang, nafsu itu kembali tumbuh. Twitter membuat saya kembali menulis. Orang- orang seperti mas Hedi, Zen RS, Arman Dhani, Eddward S Kennedy, Pangeran Siahaan dan masih banyak lagi yang membuat saya kembali bergairah dalam menulis. Saya tak pernah peduli siapa yang akan membacanya, yang penting menulis, karena toh tulisan yang baik pasti akan menemukan pembacanya. Seperti kata Zen, jadilah perajin tulisan, bukan penulis. Tulisan yang hadir dengan data dan fakta yang kuat.

Sebelum saya fokus menulis di blog ini, ada beberapa blog yang saya kelola dengan tema yang beragam. Di mulai dari blogger, Tumblr, Myspace, Friendster, notes di Facebook hingga multiply yang kini telah tiada.

Yah, betul, menulis membutuhkan energi, mencari data dan fakta yang akurat adalah salah satu kesulitan di antaranya. Lewat menulis juga saya sering kelimpungan akan dateline dan proyek yang tak kunjung usai yang membuat kuliah terbengkalai. Semenjak ikut serta ke dalam beberapa proyek yang digagas Mas Adi, menulis bagi saya seperti bernafas. Tersiksa oleh sulitnya menemukan data menjadi makanan sehari- hari yang sering dinanti jika proyek sepi. Tapi itu membantu saya dalam menulis dan mencari data skripsi. Walau jujur, cukup malas mengerjakan penulisan hukum yang satu ini.

Saya juga setuju dengan Papap/ Indra Hikmawan Saefullah-- Dosen Hubungan Internasional UNPAD yang juga merupakan eks-gitaris Alone at Last-- menulis dapat membuat suara kita lebih didengar. Jadi, mari menulis, apapun itu, karena dengan menulis kita mencatat keabadian. Dengan menulis suara kalian akan lebih didengar.

Selamat hari Blogger, kawan- kawan!!

note: Mulai bulan depan saya mulai aktif menulis di salah satu digital media start-up nasional!

Thursday, 11 September 2014

Dear You


Dear, You.

I know life is a complex and works on its mysterious way. I know the sun is one of billion stars in our galaxy, Milky Way. And I know that a galaxy is composed of gas, dust and stars. There are billions of stars upon billion stars and every star may be a sun to someone. But from every fallen star in a hundred of billion galaxies, I don’t understand, why it must be you?  
 
I have some question for you: Should I have orbit around you? or like Voyager, continues to floating and exploring the universe?















Tuesday, 9 September 2014

Leo Tolstoy: Anna Karenina dan Anarkisme

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian ketika mendengar kata anarki? kekerasan? atau perusakan? Maka anda salah. Anarki bukanlah seperti apa yang media mainstream beritakan. Anarki merupakan suatu paham yang menganggap bahwa negara adalah akar segala masalah yang ada, dari mulai sosial, ekonomi hingga politik. Oleh karena itu menurut para anarkis negara haruslah ditiadakan. Menurut para anarkis, harmoni dalam masyarakat itu bukan diperoleh dengan penyerahan terhadap hukum yang dibuat oleh negara atau kepatuhan terhadap otoritas apapun. Tapi lebih pada tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya, walau menurut banyak orang hal ini terdengar utopia.

Kebanyakan anarkis merupakan pasifis yang cinta perdamaian, walau beberapa diantaranya juga menghalalkan propaganda by the deed. Salah satu tokoh yang terinspirasi oleh pergerakan oleh ide kaum anarkis adalah Mahatma Gandhi. Gandhi banyak terinspirasi dengan ide- ide anarkis setelah banyak membaca karya- karya Leo Tolstoy salah satunya adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul Kerajaan Allah Ada Di Dalam Dirimu.

Pertemuan saya dengan Leo Tolstoy pertama kali adalah ketika seorang kawan bimbel di SSC memberi saya pinjam kumpulan cerpen Leo Tolstoy yang berjudul "Tuhan Maha Tau, Tapi Ia Menunggu". Tak membutuhkan waktu yang lama saya mulai jatuh cinta dengan karya- karya Leo Tolstoy, dengan cepat saya melahap buku- bukunya yang lain seperti; War and Peace, Anna Karenina dan Hadji Murat. Jujur saja, di jaman SMA saya belum mengenal banyak perihal apa itu anarkisme, selain dari band- band seperti NOFX, Bad Religion atau Strike Anywhere, dan Leo Tolstoy banyak memberi saya banyak gambaran tentang anarki dan pasifisme lumayan banyak.

Gambaran akan paham dan ide- ide Anarkisme dapat dengan mudah kita dapatkan dalam karya- karya Leo Tolstoy. Salah satunya adalah Kerajaan Allah Ada Di Dalam Dirimu. Dalam bukunya tersebut ia banyak bertutur bahwa kekerasan adalah salah satu jalan yang tak pantas untuk digunakan. Buku tersebut juga mengilhami pergerakan sosio-kultural Gandhi melahan imperialisme tentara Kerajaan Inggris di India.

Tolstoy muda saat itu, yang merupakan keturunan bangsawan Rusia merasa kasihan dengan nasib para petani yang berbeda jauh dengan nasib dirinya. Atas dasar perbedaan nasib yang dirasakan olehnya kepada para petani- petani Rusia saat itu, Tolstoy menulis buku yang berjudul "Childhood, Boyhood and Youth." yang bererita tentang anak seorang tuan tanah kaya, yang menyadari perbedaan antara dirinya dengan teman-temannya yang berasal dari golongan petani.

Pada saat itu perbudakan merupakan hal yang lumrah di Rusia dan dapat ditemui di mana- mana. Leo Tolstoy yang diwarisi tanah yang melimpah warisan orang tuanya, membebaskan budak- budaknya dan menerapkan sistem swadaya dan egaliter dalam menjalakan pertaniannya.

Banyak ide- ide dari Leo Tolstoy yang saya serap dalam kehidupan sehari- hari, karena menurut saya karya- karyanya masih sangat relevan dengan kehidupan yang ada sekarang. Jika seorang Mahatma Gandhi dan Martin Luther King saja dengan mudah terpikat olehnya, bukan hal yang mustahil ide- idenya dapat menyerap dengan mudah masuk ke dalam otak saya.

Anna Karenina
Anna Karenina merupakan salah satu nover terbaik yang pernah saya baca, novel yang bertemakan realis yang merupakan tema favorit saya dalam bidang novel. Dalam novel ini Anna Karenina digambarkan sebagai simbol seorang istri yang sempurna yang ironinya terlibat perselingkuhan dengan seorang pria tampan yang lebih muda darinya bernama Vronsky. Novel ini merupakan pukulan dari Leo Tolstoy bagi para kaum bangsawan Rusia pada saat itu, dimana kehidupan para kaum bangsawan Rusia pada saat itu identik dengan hura-hura, pesta dan kegiatan hedonis lainnya.

Tokoh Anna dalam novel ini sangatlah hidup yang membuat saya cukup marah terhadap akhir cerita dari novel ini, dimana Tolstoy seperti memberi punishment kepada Anna karena terlalu banyak menuruti kata hatinya dibanding berpikir dengan akal sehat. Dalam novel ini Tolstoy juga seperti ingin mengajari kita akan sebuah konsekunsi dari setiap pilihan yang kita buat. Tentang sebuah pilihan yang kadang berujung pada kesengsaraan.

Dalam gambaran tokoh yang lain seperti Levin yang berbading terbalik dengan Anna. Tolstoy menggambarkan Levin yang seorang petani, mencoba hidup sesederhana mungkin dan menikmati hidupnya dengan penuh rasa syukur. Ia tak terlalu menginginkan banyak hal hingga hidupnya terkesan datar karena banyak menghindari resiko dan terkesan main aman.

Dengan detail cerita dan karakter tokoh yang sangat kuat dalam novel ini Leo Tolstoy benar- benar ingin menggambarkan kondisi masyarakat Rusia saat itu yang penuh dengan kemunafikan dan kepalsuan.
 
“All happy families are alike; each unhappy family is unhappy in its own way.”- Anna Karenina, Leo Tolstoy.





Tuesday, 19 August 2014

Safarnama: Sebuah Awal



Kita semua di sini, sebagai manusia mempunyai peran menuliskan kisah- kisah epic secara kolosal, karena saya yakin setiap manusia mempunyai sesuatu yang menurutnya layak untuk dikontemplasikan. Sesuatu yang menurutnya layak diperjuangkan.

Safarnama, berasal dari bahasa Persia yang berarti catatan perjalanan. Safarnama ditulis pertama kali oleh Nasir Khusraw dalam perjalanan spiritualnya melakukan ibadah haji. Dalam Safarnamanya tersebut, Nasir Khusraw menulis banyak hal tentang dirinya sendiri, termasuk keputusannya dalam melakukan ibadah haji.

Ada sebuah buku Safarnama yang lain, yang berhasil membuka mata saya. Buku tulisan Agustinus Wibowo, seorang pejalan jauh. Dalam bukunya yang berjudul Titik Nol, Agustinus Wibowo memberi saya perspektif lain arti dari sebuah perjalanan. Buku yang memaksa saya untuk melihat ke dalam diri sendiri, bahwa perjalanan selalu memberikan pelajaran. Pelajaran selain bagaimana belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Yah, acap kali untuk mencari apa yang ada di dalam, seseorang harus pergi jauh keluar. Dan itu yang saya dapatkan dalam 4 tahun terakhir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan sebuah zona nyaman, dan keterasingan adalah salah satunya, apapun itu bentuknya.

Esensinya sebuah perjalanan dapat membawa diri kita pada titik di mana kita dapat mengerti hidup kita. Dalam perjalanan acap kali kita menjadi lokasi, seharusnya perjalanan adalah pengalaman personal yang akan bermakna jika itu direnungkan, dan jarak bukanlah menjadi soal. 

Kata orang, tersesat adalah salah satu cara untuk menemukan diri sendiri. Dan, yah, perjalanan ini bukanlah tentang seberapa jauh saya dapat pergi berkelana, tapi ini tentang seberapa dekat saya dapat mengenal diri saya, seberapa hebat saya telah menghancurkan harapan yang telah dibangun dan dirawat baik- baik, oleh mereka, orang- orang yang pernah menggantungkan harapannya kepada saya. perjalanan kali ini haruslah memberikan saya sebuah pelajaran berarti. Perjalanan yang mampu membuat saya berkontemplasi bahwa ada hal yang bagi saya layak diperjuangkan. Entah itu mimpi, seseorang atau sesuatu yang absurd sekalipun bernama cinta. Maka saya memutuskan tujuan akhir bukanlah inti dari perjalanan ini. Karena saya percaya bahwa untuk mengetahui seberapa kuat kita adalah dengan terus mencoba menerjang limit kita, karena batas adalah cara manusia dalam melabeli ketidakmampuannya.

Maka biarkan perjalanan ini menjadi sebuah awal bagi saya untuk mengenal esensi dari sebuah perjalanan. Perjalanan untuk mengenal saya, dia, kamu dan mereka lebih dalam. Memang secara kolosal kita menulis perjalanan kita masing- masing, tapi ada hal yang perlu diingat:

 Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku. 
 


Thursday, 31 July 2014

Menggugat Sistem Pendidikan di Indonesia


Saya masih ingat kata- kata saya di twitter kepada Jani, Ancha, Rangga, Hilman dan Echa saat mereka melepas label mahasiswa mereka: The best way to be free is to be educated. Yap, pendidikan adalah salah satu cara melepas kita dari ruang lingkup kebodohan. Begitu pula ucapan Imanuel Kant. Man Can Become Man Through Education Only.
Saya dan Adi sedang duduk sambil mengamati isi tulisan di laptop kami masing- masing malam itu. Adi memberi sebuah pekerjaan kepada saya sambil mencoba memaparkan job desk saya nanti, dimana saya kudu menggantikannya berlibur sambil bekerja ke daerah Indonesia bagian timur karena ia harus balik kembali  bersekolah ke Belgia.

Tapi malam itu sebuah acara di televisi mengalihkan perhatian saya dan Adi, acara itu bercerita tentang betapa buramnya potret pendidikan di Indonesia saat ini. Pendidikan bukan lagi soal mencerdaskan anak bangsa tapi lebih kepada kesempatan antara si kaya dan si miskin. Antara yang beruntung dengan yang buntung.
Saya dan Adi adalah orang yang beruntung, mungkin sangat beruntung, lahir di keluarga yang cukup mapan, kedua orang tua kami mampu menyekolahkan anak- anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan ayah saya sudah mewanti- wanti dan memberi tenggat waktu untuk segera lulus dan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi agar ia bisa membiayainya selagi bisa. Adi, teman satu profesi saya saat ini, sekarang sedang mengejar gelar masternya dalam bidang kedokteran di sebuah Universitas di Belgia sana, dengan modal uang Rp 30 juta, Ia melancong untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik di sebrang lautan sana. Pernah dalam suatu pertemuan Ia bercerita tentang pilihannya sekolah ke luar negeri di banding di Indonesia: tentu saja soal biaya. Di sana Ia bisa membiayai hidup dan sekolahnya dari menjalani profesi sebagai tukang tekel (Ini istilah yang kami buat sendiri ketika mendapat proyek menulis atau mengerjakan sesuatu sesuai keahlian kami) sambil sesekali menonton band dan klub sepak bola favoritnya.

Dari hasil diskusi dua jam tersebut kami berdua sepakat: pendidikan di Indonesia saat ini masih jauh dari kata sempurna, bahkan alih- alih membuat manusia menjadi manusia, pendidikan yang ada sekarang justru membuat manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Seringkali tidak memanusiakan manusia. Pendidikan hanya dapat menyentuh individu yang mampu secara finansial. Tapi bagi mereka yang kurang mampu atau miskin secara finansial, tamat SMA pun adalah sebuah pencapaian tertinggi dalam hal pendidikan. 

Hal inilah yang menjadikan dunia pendidikan sebagai alat peraup keuntungan bagi pemilik modal. Kapitalisasi dunia pendidikan membawa kita pada persepsi bahwa pendidikan formal adalah satu- satunya jalan dan harapan untuk mengubah status ekonomi manusia. Tanpa sadar dunia yang kita huni ini telah membawa jurang antara si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar. Dimana si miskin secara finansial hanya dapat mencapai pendidikan sampai batas tertentu dan yang kuat secara finansial bebas memilih batas dimana ia akan berhenti. Ini bukan lagi soal mau tak mau tapi soal kesempatan yang didapat. Dengan dalih administrasi, sekolah akan menutup pintu bagi kaum proletar, kaum yang tertindas secara finansial.

Itu juga yang menjadi konsren Ivan Illich dalam bukunya Deschooling Society, dimana ia berujar, pendidikan yang ada saat ini telah mengalienisasi peserta didiknya dari lingkungan sekitarnya. Pendidikan hanya alat dagang yang dijajakan untuk meraup keuntungan. Pelayan kapitalisme. Menurut Illich sistem pendidikan yang ada saat ini lebih berorientasi pada kepentingan pemilik modal dan bukan lagi sarana pembebasan bagi kaum tertindas. Kita diprogram agar dapat bersaing sebagai robot yang mampu melakukan perintah dengan baik dan benar. Kita dipaksa untuk mengikuti kebutuhan industri agar sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. 

Wahono dalam kritiknya di buku Penjiarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya mengatakan, bahwa pendidikan di negeri ini lebih berpola pada pendidikan model anjing. Dimana sistem pendidikan yang ada saat ini lebih bersifat hafalan, sistem komando, subordinasi dan militeristik. Dimana siswa hanya dijadikan objek kepatuhan sang guru, dimana yang patuh berhak mendapatkan reward sementara yang kritis layak diberi punishment.

Sisi kreatif kita dikekang, tak boleh keluar. Lihatlah, tak sedikit orang tua yang berpikir, bahwa sekolah seni tak akan menghasilkan apa- apa selain menjadi perupa. Orang tua lebih senang anaknya sekolah kedokteran, hukum atau teknik dengan harapan akan mendapat gaji yang “layak” sesuai dengan uang yang telah mereka keluarkan.
Ini pula yang membuat masyarakat kita memberhalakan ijazah, yang kerap kali menjadi ujung tombak untuk  mendapatkan pekerjaan, seakan- akan tanpa kertas tersebut ia tak mampu mendapat kehidupan yang layak. Maka tak heran jika biaya pendidikan saat ini sangat mahal yang membuat individu yang miskin secara finansial tak dapat menyentuh salah satu hal yang paling hakiki di dunia ini, sesuatu bernama pendidikan. Lihatlah perbedaan biaya S1 sekolah kedokteran di Belgia dengan di Indonesia, sangat timpang.

Entah, tapi sekali lagi saya dan Adi adalah dua orang yang beruntung lahir di keluarga yang mampu secara finansial sehingga dapat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mempunyai label maha di depan kata siswa. Kami pun beruntung bisa bekerja dengan orang- orang yang pintar tanpa memedulikan ijazah yang kami punya. Mendapat bayaran yang layak, sehingga kami mampu membeli kaos dan menonton musisi favorit kami, membeli barang- barang seperti mainan untuk memuaskan hasrat kami. Melakukan hobi seperti travelling agar otak kami tidak stress dan hal yang terpenting, kini kami mampu membiayai biaya kuliah kami sendiri.

Friday, 4 July 2014

Mah, Pah! Maaf. Tapi Kali Ini Kita Bersebrangan


Bagi Hobbes, manusia bukanlah mahluk sosial, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus) karena manusia mempunyai naluri untuk mempertahankan dirinya masing- masing. Dalam bukunya yang sangat terkenal yang berjudul “Leviathan”, Hobbes menganalogikan binatang buas dalam mitologi Timur Tengah tersebut sebagai simbol negara, karena bagi Hobbes negara haruslah berkuasa dan ditakuti oleh rakyatnya, karena dengan cara itulah rakyat akan tunduk seutuhnya.

Masih menurut Hobbes dalam bukunya tersebut, pada suatu titik negara akan berhenti melindungi rakyatnya dan akan memulai menegakan keadilan dengan cara kekerasan dan represi, di sini lah Negara berubah menjadi monster yang buas, yang siap meneror dan memangsa siapa yang tak patuh pada perintahnya seperti halnya Leviathan.


Hari itu merupakan hari yang cukup panjang dan melelahkan bagi saya, pekerjaan yang menumpuk, membuat saya terlalu malas untuk melangkah ke kamar atas dan memilih untuk menonton televisi dan tiduran di ruang keluarga. Saat itu ada Ayah, Ibu dan anak buah ayah saya , Ende, duduk di ruang keluarga.

Diskusi dimulai ketika salah satu dari kami melempar pertanyaan siapa yang layak memimpin negeri ini, di antara kedua capres yang ada. Saya tak menjawab, saat itu saya belum memutuskan untuk memilih Jokowi atau tetap abstain seperti sebelumnya. Semua orang yang berada di ruangan itu kecuali saya seperti sepakat dan mengamini, Prabowo adalah orang yang tepat untuk memimpin negeri ini, menurut mereka ketegasan yang Prabowo punya mungkin bisa merubah peruntungan Negara Indonesia ini. Tindakan kekerasan dan represi jika diperlukan adalah salah kedua alasannya.

Betapa terkejutnya saya, keluarga saya yang mendidik saya dengan kelembutan tanpa pernah ada satu bogem mentah melayang ke muka saya itu bisa berpendapat demikian. Ok, saya memang dibesarkan dalam keluarga yang konservatif tapi tak pernah sekalipun mereka melarang saya membaca buku, apapun judul dan isi buku tersebut.

Malam itu kami berdebat cukup panjang, satu perdebatan tentang ideologi politik yang saya nikmati walau melelahkan sekaligus mengecewakan  bagi saya secara pribadi. Bukan soal pilihan mereka terhadap Prabowo dan Hatta, tapi pilihan mereka terhadap alasan kenapa Prabowo layak memimpin negara ini. Bahwa negara butuh seorang yang tegas, yang bisa melakukan kekerasan dan represi jika diperlukan dan menjadi monster agar keadilan dapat terlaksana. 

Entah, tapi saya yakin, mereka lupa soal cerita yang sering mereka ceritakan, tentang Petrus di tahun 80an. Saat itu, banyak orang yang dianggap preman dibunuh dan dibuang layaknya sampah. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, ada rindu tak terbalas yang berbekas dalam keluarga yang ditinggalkan.

Mungkin saya salah, mungkin. Tapi bagaimana mungkin mereka dengan mudah memaafkan orang yang berjasa menghilangkan nyawa ribuan manusia atas nama kedaulatan dan stabilitas Negara?

Bagaimana jika suatu saat nanti, anak yang mereka besarkan dan diberi makan dengan keringat mereka ini hilang saat membaca buku yang dilarang oleh orang yang mereka dukung ?

Bagaimana jika suatu saat nanti, anak yang mereka timang dengan penuh kasih sayang ini harus meregang nyawa karena berpikir kritis terhadap pemerintahan yang mereka dukung?

Mungkin saya salah soal Prabowo nanti, akan tetapi ketakutan saya menjadi wajar jika melihat penegakan HAM saat ini, di negara ini. Bagaimana orang- orang yang terlibat dalam pembantaian DOM di Aceh dan Santa Cruz di Timor Timur bisa melenggang dengan bebas mencalonkan diri menjadi presiden tanpa diadili di pengadilan. Ini bukan soal Prabowo personal, toh, jika Wiranto mencalonkan diri pun saya akan tetap berdiri di sisi yang sama seperti saat ini.

Tanpa mengurangi rasa cinta dan rasa sayang saya kepada kalian, mohon maaf kali ini kita bersebrangan, mungkin saya abstain atau memilih calon presiden dari kubu yang berlawanan dengan kalian. Tapi seperti yang kalian ajarkan soal perbedaan pendapat, adalah hal lumrah jika diantara kita berbeda pendapat. Itu hak kalian dalam memilih nomor satu atau dua. Maka seperti soal fasisme yang anak kalian lawan, maka tak mungkin saya memaksakan kehendak saya pada kalian. Toh, jika saya bertindak seperti itu, maka apa bedanya saya dengan mereka yang saya lawan? bertindak fasis sedari dalam pikiran.
Mungkin ketika Prabowo menang kalian akan merindukan suara anak sulung kalian yang bersebrangan pendapat dengan kalian.

Mungkin ketika Prabowo menang kalian akan merindukan suara pagar yang dibuka oleh anak sulung kalian setiap malam, karena berpikir kritis terhadap pemerintahan yang kalian dukung.

Mungkin, salah satu dari kalian akan berdiri di depan istana, pada setiap kamis sore, layaknya ibu- ibu yang rindu akan kehadiran anak dan suami mereka untuk pulang.

Tapi mungkin saya salah soal Prabowo. Mungkin saya terlalu berlebihan. Mungkin? 

“semoga”.



Tuesday, 8 April 2014

Memilih Untuk Tidak Memilih



Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu. Tepat saat pemilhan ketua BEM Fakultas Unisba berlangsung.

Siang itu di depan kursi ruang dosen, menunggu teman- teman hadir dalam rapat ILSF, Andri memberi selebaran tentang pemilihan umum kepada saya. Walau tidak bertanya secara langsung, tapi saya yakin dan tahu maksud dari Andri adalah untuk memberi ajakan sekaligus wawasan kepada mahasiswa hukum di Unisba untuk tidak golput dalam pemilihan ketua BEM Fakultas Hukum Unisba dan juga mengajak mahasiswa hukum lainnya untuk memilih Sahrul.

Tulisan tersebut dibuat oleh Sahrul, calon ketua BEM (sekarang sudah terpilih menjadi ketua BEM), yang kebetulan berada dalam satu himpunan mahasiswa Hukum Internasional dengan saya. Tulisan yang bagus menurut saya, dilengkapi dengan data dan diksi yang baik pula.

Tapi, dari isi tulisan tersebut terdapat kalimat yang membuat saya sedikit mengerutkan dahi, Sahrul meminjam kredonya Gandhi; "Lebih baik menyalakan lilin daripada membiarkan diri dalam kegelapan"(kurang lebih begitu isi kalimatnya, selebarannya hilang) yap, frasa "membiarkan diri dalam kegelapan" membuat saya setuju untuk tidak setuju dengan tulisan Sahrul tersebut.

Entah siapa yang memulai mengambing hitamkan golput dalam buruknya suatu sistem pemerintahan, tapi itu bukan pertama kali saya membaca pernyataan serupa, pernyataan dengan penuh tendensi, menyalahkan orang yang sama sekali tidak pernah menyalakan lilin yang membuat rumah terbakar.

"Golput atau tidak golput" dikotomi usang pasca reformasi yang menjamur saat musim pemilu tiba. Golongan putih sering menjadi perbincangan dan kambing hitam dalam bobroknya suatu sistem, dianggap ikut berpatisipasi dalam memilih pemimpin yang buruk.

Dari pemilu ke pemilu angka Golput selalu naik, pada tahun 1999 angka golput mencapai 8%, tahun 2004 mencapai 23%, dan di tahun 2009 mencapai 39%.

Tapi bagaimana dengan mereka yang memilih dan membawa monster- monster tersebut berkuasa di pemerintahan? bukankah mereka yang menyalakan lilin yang membuat rumah itu terbakar?

Tidak semua golput besikap apolitis, banyak dari mereka yang memilih golput justru lebih mempunyai sikap politis dibanding yang berpartisipasi. Saya kenal banyak teman yang ikut berdiri memasang badan untuk kawan- kawan di Kulon Progo, ikut bersuara bersama buruh dalam memperjuangkan hak mereka, memberi bantuan hukum bagi mereka yang membutuhkan. Dan suara mereka lebih lantang dibanding mereka yang sok- sok-an mewakili kita di Gedung legislatif sana.

2 kali, sebanyak 2 kali saya ikut menggadaikan suara saya kepada mereka, beberapa saya titipkan kepada orang yang saya kenal, hasilnya? TETAP. Pemilu tak merubah nasib mereka yang tertindas. Negara tetap lalai, gagal melindungi rakyatnya dari hegemoni perusahaan- perusahaan besar, dari koruptor- koruptor yang merampas hak rakyat Indonesia.

Saya setuju dengan pendapat seorang teman, bahwa ini perang yang tak akan bisa kita menangkan. Tapi selama masih ada perlawanan, selama tangan masih bisa mengepal, perubahan ada di tangan kita bukan di tangan mereka. Dan kali ini saya lebih memilih memperjuangkan sendiri nasib saya dan tak menitipkan suara saya kepada siapapun itu, termasuk badut- badut di gedung DPR sana.

Whoever they vote for, we are ungovernable!!