Sunday, 15 March 2015

#1 Jakarta, Absurditas dan Sisa Sisa Yang Diikhlaskan

Subuh masih menawarkan hening, adzan belum berkumandang dan orang- orang masih terlelap dalam mimpi. Tak ada yang spesial di hari itu, selain harus bergegas mengejar kereta pertama dengan tujuan ibu kota. 

Jakarta selalu mempunyai cerita. Pada setiap kebisingan di pagi hari, di kala lautan manusia secara serentak menjadi sekrup penggerak mesin perusahaan- perusahaan besar. Di rimba- rimba belantara dengan barisan beton yang menjelma menjadi pusat perbelanjaan dan perkantoran. Di lampu- lampu kota yang bersinar menggantikan matahari yang lelah menunjukan dirinya. Di taman- taman kota, di mana kenikmatan hadir hanya dalam semangkuk kecil tahu gejrot saja.

Bagi sebagian orang kota ini adalah mercusuar. Tempat mereka menggantungkan harapan.  Dimana mimpi dipersonifikasikan. Rezeki yang terporsi dibagikan sesuai peran. Ada yang recehan, ada yang miliaran. 

Belum banyak hal yang saya ikhlaskan di kota ini, selain seseorang dan jutaan rupiah yang dihabiskan hanya untuk belanja, makan dan membeli tiket untuk menonton band kesayangan. Pagi itu aga gerimis. Di bawah tiang besi yang besar dan papan reklame sebuah perusahaan rokok, saya dengan sabar menunggu jemputan yang terjebak kemacetan kota Jakarta. "Macet! Tak bisa bergerak" katanya. "Ah, kenapa tak pergi lebih awal. Ya udah, naik busway aja!" Balas saya. Karena waktu yang makin mendesak, saya memutuskan untuk menaiki busway saja.

Tak perlu waktu yang lama bagi saya untuk menyadari betapa ringkihnya ibu kota. Berdesakan di dalam Trans Jakarta bersama mereka yang mengais harapan. Kebanalan pengedara motor dalam setiap jengkal trotoar. Supir Metro Mini yang lupa di mana posisi pedal rem berada. Rumah- rumah kardus di bawah kolong jembatan. Juga ibu- ibu yang tak tahu alamat dan meminta uang "20 ribu saja buat ongkos pulang" yang tentu tidak saya berikan.

Barangkali sudah begini takdirnya kota ini, dihadapkan dengan segala tipe manusia dan keabsurditasannya. Tidak dapat dipisahkan. 

Kata teman, bermimpi itu membutuhkan nyali dan cuma bisa dilakukan oleh orang -orang yang berani. Cuma ada dua opsi. Bertarung habis- habisan atau kalah telanjang. 

Tapi pernahkah kita menyadari bahwa kita adalah sisa- sisa yang diikhlaskan? Doa- doa yang tak/belum menjadi nyata? Mimpi- mimpi yang untuk sementara waktu disimpan hanya untuk berkompromi dengan kehidupan? 

Ah, barangkali di antara kita sudah ada yang cukup dewasa dan mengerti bahwa hidup punya caranya sendiri dalam membawa kita tersesat dalam labirin. Dibenturkan harapan hingga muncul pertanyaan tentang layak atau tidaknya hidup ini diperjuangkan. Di saat itu kita dipaksa untuk membuat keputusan yang sama sekali tidak ekstensialis. Melakukan hal yang kita benci terus - menerus. Hingga hancur menabrak karang.

Kita tahu betapa kompleksnya hidup ini, saya juga pernah berjuang dan kalah, pernah disakiti, dihancurkan oleh harapan yang saya bangun dan saya pupuk sendiri.  Setelah itu semua, tak mudah bagi saya untuk bisa berdiri kembali.

Terkadang melihat tipisnya harapan, di suatu kondisi, di mana tak ada lagi jalan untuk memutar memang memuakan. Tapi selagi harapan itu masih ada, seberapa tipisnya itu, bukanlah soal. Harapan memang tak bisa dimakan, tapi setidaknya itu membuat kita bertahan. Satu- satunya kebaikan yang tersisa dari kotak yang dibuka Pandora.

Untuk kawan- kawan yang sedang berjuang diperantauan, jangan menyerah ada banyak jalan untuk "pulang".










Friday, 20 February 2015

Goddamn, Salad days

It was a glimpse of hope. Yes, it was. There is always thing that we, people as human being can't understand. 

I never had a plan to be an entrepreneur, seriously never was before. I had a dream job. When I was a kid I used to dream to be a football player or football coach, astronomer or a Physicist.  I do love science, especially , Geology, Physics and Biology. I'm good at subjects. My parents wanted me to be a Physician but I dont have any interest in this profesi-idaman-calon-mertua. I dont know, I passed into Faculty of Medicine in Unjani 7 years ago but I decided to take Geodetic in Itenas (I thought it was a geology) and it was horrible mistake and moved to Unisba. And then here I am, still looking a way out to finish my research/study and at the same I have to balance and manage my company ( I study at a law school with concentration in International Law and I took a subject in space law, moon mining, a bullshit thing that NASA wants to mine mineral in moon).

So 6 years ago without any experience in music business I decided to dive and startup a record label company. It was profitable until I ruined so many things.  Stabbed by partner, fucked-up bands and clients. Now things changed, I didnt do bootstrapping again, no more. Funded, it means I have debt! 

After one year in hiatus, we are back. We have 2 albums to be released this month. Organise a foreign band to do touring in Indonesia. And make a deal with a well-known record label that can sell their material album in just one day!

And then 5 months ago, a friend was calling me to be a co-founder in his startup. We decided to make a media news such as Mashable or Vice. But it never happened. He lost, without any single message, so I decided to do pivot. And make another startup company. It means you need to bootstraping again. 

Family, Do they understand?

It's a hell. Your family is always coming and asking about "how 'bout your research/study?", , " how is your startup going?", "how's big your company now?", "where's your girlfriend? your mommy wants a baby" and bla bla bla bullshit in family gathering. 

In case you dont know. Doing entrepreneur is a long journey, it is kinda like putting yourself in under so much pressure, and you fed up for telling other people to be calm and patient, because there is not a shortcut to climb a mountain.

Ali Mase is right, only an entreprenuer could understand an entreprenuer. I feel so comfortable when I sit next to my entrepreneur friends. They understand how big the pressure is. Need to calm and make sure you dont make rush decision. Do it properly and wisely. You sleep about 3-5 hours per day. Lack of money, and keep pushing yourself in to the limit. Ruins you love-life (I do). More drama. More painful days.

Is it worth?

Yes it is worth, finally after long battle and journey, there is always a glimpse of hope that leads you to see something clearly. 

It doesnt change drastically, I still sleep bout 4-6 per day but when I wake up, I see my ideas work. My life is getting better. I can pay my bill (again). Buy stuffs I dont need. Travelling. Ride my bike and take a nap for a while.

I have two plans after this, I gotta finish my study and take post-graduate at Space Law or Creative Business and study hard to get license to be copyright consultant.


There is an ancient quote that I like to put:

"A Smooth Sea Never Made a Skillful Sailor" 

or quote Sutan Sjahrir cites from Frederic Von Schiller 

"If you do not dare to die you will never win life" 


Saturday, 14 February 2015

Hari Valentine dan Budaya Seks Di Nusantara

Aga suram ketika bangun tidur subuh- subuh dan melihat televisi yang masih menyala (padahal jarang ditonton dan lupa dimatikan sehabis nonton bola) didalamnya ada dua orang yang sedang berdebat ihwal hari Valentine.

Dari dulu saya tidak pernah merayakan Valentine, kenapa? Karena bagi saya orang yang merayakan adalah orang yang ga ada kerjaan. Menolak juga tidak., kenapa? karena memang tidak penting. Tapi sampai sekarang saya tidak pernah habis pikir, sebegitu bahayakah Hari Valentine itu? 

Konon, hari valentine identik dengan seks bebas. Entah dari mana hipotesa ini muncul ? Apa dari hasil survey atau dari hasil data penelitian penjualan kondom di Hari Valentine ?

Banyak yang bilang Hari Valentine juga tidak sesuai dengan nilai- nilai ketimuran yang adiluhung ini? Tapi jargon ini membuat saya makin bingung, nilai- nilai ketimuran mana yang telah dilangkahi? Bukankah budaya Timur kerap mengeksplorasi hubungan seksual?

Dalam relief Karmawibangga yang berada di bagian bawah Candi Borobudur, secara gamblang menggambarkan posisi ideal dalam bercinta. Relief tersebut ditutup oleh pemerintah kolonial Belanda karena tidak sesuai dengan norma kerajaan Belanda.

Dalam tulisan Zen ini, yang mengutip isi cerita dari buku Babat Tanah Jawi diceritakan, Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II  yang notabene adalah kakaknya sendiri, dan dahsyatnya Pangeran Puger menghisap sperma dari kakaknya yang sudah menjadi mayat hanya untuk melegitimasi kekuasaannya. 

Ada lagi (tapi saya lupa membaca di mana) salah seorang seorang raja di kawasan nusantara yang mati terkena sipilis karena berhubungan badan dengan lebih dari seribu wanita tanpa lat pengaman (kondom dalam bentuk apapun mungkin belum sampai ke nusantara saat itu). Belum lagi kisah tentang Sultan Iskandar Muda yang meminta dibawakan dua wanita bule dari Inggris untuk memenuhi nafsu birahinya. Lalu ada Serat Centhini, yang secara lugas mengupas hubungan seksual di kalangan bangsawan- bangsawan Jawa.

Di majalah Historia pernah diceritakan, soal kegemaran Pakubowono X yang mengoleksi selir dalam memuaskan nafsu birahinya. Ada sekitar 40 selir yang menjadi alat pemuas nafsu birahinya. Konon, para Raja yang sudah menikah tetapi belum mempunyai selir tetap dianggap masih pejaka. Selain itu selir juga bisa menjadi alat legitimasi untuk meraih kekuasaan yang tak terbatas karena keluarga- keluara selir secara tidak langsung akan mendukung raja jika terjadi sesuatu yang merugikan raja.

Jangan lupa, selir- selir raja yang merupakan pemuas nafsu para raja jawa juga mempunyai peranan penting dalam melahirkan raja- raja di Nusantara. Nyai Karoh, yang merupakan selir Raden Mas Suryaputra (Amangkurat IV) melahirkan Pangeran Arya Mangkunegara. Yang kemudian memepunyai keturunan benama Raden Mas Said, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa alias Mangkunegara I.

Ada juga kakawin Hariwangsa yang merupakan syair dalam bahasa Jawa kuno, yang dengan secara secara eksplisit menggambarkan hubungan seksual sesama jenis para perempuan yang hidup di balik tembok keraton.

Jazirah arab mempunyai cerita semacam kamasutra dalam bentuk The Secret Garden of Eden. Lalu dalam Islam ada kitab Qurrat al-Uyun yang secara detail menggambarkan wanita mana yang ideal untul dinikahi melalui perspektif seksual dan juga membahas persoalan seks lainnya. Di India ada sebuah kitab yang terkenal Kamasutra yang menggambarkan posisi- posisi ideal dalam melakukan hubungan seksual.

Jujur saya, bagi saya pribadi melarang perayaan Valentine karena alasan seks bebas dan tidak sesuai dengan nilai- nilai ketimuran yang katanya adiluhung itu justru tidak masuk akal. Jika melihat fakta- fakta di atas, justru budaya kita yang katanya adiluhung ini telah lebih dulu mengekplorasi hubungan seksual. Alih- alih memberi edukasi soal pentingnya alat reproduksi, larang- larangan ini justru dapat membuat para siswa tersebut semakin tertantang untuk mencari tahu dan mencoba berhubungan badan. 

Bagi saya dibanding melarang siswa untuk merayakan valentine karena alasan seks bebas justru makin menjauhi nalar, alangkah baiknya jika pemerintah mau memasukan pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum. Agar apa? agar mereka yang konon katanya generasi penerus bangsa tahu, apa fungsi dari organ genitalnya lalu oleh siapa saja organ genitalnya boleh dipegang dan akan berakibat apa jika organ genitalnya dipakai sembarangan. 

Pendidikan alat reproduksi dapat menjadi alat pencegah atau early warning sehingga mereka tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan. Dibanding melarang suatu perayaan yang merupakan produk budaya luar yang sudah menjadi tradisi berabad- abad yang belum tentu melangkah pada perilaku seks bebas, karena toh yang melakukan maksiat tidak hanya di Hari Valentine, di hari- hari biasapun banyak. 

Tapi hal ini bukan berarti saya menghalalkan seks bebas. Saya mempunyai pandangan yang sama dengan Menteri Agama Lukman Hakim, we have to respect to those who celebrate, jika hal tersebut mempunyai hal dan tujuan yang baik. ( I have some friends from overseas, they celebrate Valentine's day to share some loves to the loved ones, like mother, father and the other family members like brother, sister, aunty etc.)

Karena moralitas lahir dari pribadi bukan dari paksaan dan tekanan. Acap kali, anak yang besar dari sebuah paksaan dan tekanan hanya melahirkan pembohong yang ulung. 


Wednesday, 10 December 2014

Senyap Yang Gaduh

Sore itu saya memaksakan diri menembus hujan yang deras. Sama dengan sore di hari- hari yang lainnya, kemacetan melanda setiap ruas jalan kota Bandung. Tepat pukul 17.00 pemutaran film Senyap karya sutradara Joshua Oppenheimer dimulai. Andri sudah menunggu di teras IFI, di sampingnya ada Firman dan seorang wanita yang tidak saya kenal. 

Bagi saya pribadi film ini tidak sebaik film sebelumnya, The Act of Killing. Entah karena film ini benar- benar Senyap (Koreksi saya jika salah, tapi saya tidak mendengar sama sekali lagu latar di film ini) atau ekspektasi saya terhadap fil ini terlalu berlebih. Entahlah, kecewa? tidak.

Film ini mengenalkan kita pada sosok Adi, yang kakaknya, Romli, Ketua Buruh Tani Indonesia yang menjadi korban pembataian G30S PKI. Ia dibunuh dengan keji oleh suatu satuan yang disebut Komando Aksi. Adi yang seorang optician mencoba menguak sejarah kelam lewat kaca mata yang ia tawarkan. Ia mendatangi satu persatu orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya tersebut. Sebuah metaphora yang cantik, menghadirkan tukang kaca mata sebagai korban dan memaksa pelaku penyiksaan untuk melihat dari sudut pandang korban.

Ada perasaan marah ketika seorang pembantai nyawa manusia masih dengan bebas berkeliaran dan bahkan menganggap dirinya sebagai pahlawan. Bahkan satu di antaranya secara berkala dipilih oleh rakyat menjadi ketua DPRD Deli Serdang.

Senyap banyak bercerita tentang rasa ikhlas, bagaimana manusia dipaksa harus belajar memafkan dan merelakan kepergian. Dan kita tahu, berdamai dengan masa lalu bukan lah hal yang gampang, itu semua membutuhkan proses yang panjang. 

Bagi saya film ini bukan lagi berbicara soal siapa yg salah dan benar, tapi soal bagaimana sejarah kelam itu tidak terulang, bagaimana suatu bangsa mau tidak mau harus menerima, bahwa mereka punya masa lalu yg kelam. Bagaimana sebuah peradaban menghargai perbedaan dan nyawa seseorang. Sebuah dosa yg harus ditanggung bersama. Tapi bukan berarti kita dengan mudah memaafkan para pelaku kejahatan kemanusian. Karena marawat kemanusiaan berarti merawat sebuah peradaban dan membiarkan kejahatan kemanusiaan berarti merawat kebanalan.







Monday, 10 November 2014

Interstellar: Dimensi ke-5 dan Kisah Cinta Kosmik Di Ruang Angkasa



Christoper Nolan kembali hadir dengan film terbarunya. Sutradara konvensional yang tidak mempunyai telepon genggam ini menawarkan penjelajahan hingga batas terluar galaksi Bima Sakti dalam film terbarunya, Interstellar. Walau bukan karya terbaik Nolan dan jalan ceritanya tidak serumit Memento dan Inception, tapi Interstellar layak ditonton dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Pada dasarnya film ini bercerita tentang keinginan manusia mempertahankan spesiesnya dari kepunahan dan kerusakan ekologi di planet Bumi dengan disisipi kisah cinta antara ayah dan anak yang tak lekang oleh ruang dan waktu. Dalam film ini Nolan bermain- main dengan dimensi waktu.

Selama ini konsep waktu memang menjadi perdebatan di kalangan fisikawan teoritis. Waktu merupakan dimensi yang sulit untuk diikuti dan dikendalikan oleh manusia hingga saat ini. Kita hanya bisa mengendarai waktu satu arah lurus ke depan tanpa bisa mundur ke belakang. Sebuah dimensi yang mengawang- ngawang tapi nyata adanya.

Sebagai bagian dari tatanan kosmos, kita tahu posisi kita di alam semesta ini, terombang- ambing di lautan galaksi yang luas tanpa tapal batas.

Sudah bukan rahasia lagi, sejak dulu manusia selalu mengajukan pertanyaan ekstensial akan bagaimana alam semesta ini berawal hingga bagaimana kita diciptakan? Walau agama telah memberi segala jawaban akan setiap pertanyaan tersebut tapi selalu ada ruang dalam diri manusia untuk mencari rasionalitas dari setiap pertanyaan yang mereka ajukan, bukan hanya berdasarkan dongeng dari kitab suci semata.

Sains mencoba menawarkan itu semua. Dengan segala keterbatasannya manusia mencoba bertahan hidup dan mencari tahu segala fenomena di alam semesta lewat sains. Mau tidak mau, terima tidak terima, selama ini teori- teori sains telah membawa kita menjelajah dasar lautan dan ruang angkasa tanpa tapal batas. Insting alami dari setiap mahluk hidup yang bernafas. Bertahan hidup. Dan Interstellar berbicara tentang itu semua.

Film ini bercerita tentang Cooper (Matthew McConaughey), seorang insinyur sekaligus pilot NASA yang menganggur karena tidak ada pekerjaan dan beralih profesi menjadi petani. Ia dipaksa memimpin ekspedisi Lazarus ke area terra nullius oleh Prof. Brand (Michael Caine) dengan ditemani oleh Amelia Brand (Anne Hathaway), Doyle (Wes Bentley), dan Romily (David Gyasi). Beserta dua robot yang berbentuk seperti monolith di 2001: A Space Odyssey, TARS (Bill Irwin) dan CASE (Jon Stewart) untuk menemukan rumah baru bagi manusia.

Ia meninggalkan seorang putri dengan rasa kecewa untuk mencoba menyelamatkan manusia dari kepunahan. Setelah planet- planet yang berhasil didatangi tak mampu menyokonng kehidupan bagi kelangsungan umat manusia di arena kosmik ini, Cooper mencoba menyelamatkan Amelia Brand dan membuat dirinya masuk ke dalam blackhole Gargantua dan terjebak di ruang 5 dimensi.

Sejatinya menurut fisika teoritik siapapun dan atau apapun yang masuk ke dalam blackhole akan hancur oleh singularitas. Tapi Nolan menolak untuk memasukan teori tersebut ke dalam filmnya. Di sana, Cooper masuk ke dalam tesseract dan menemukan putrinya yang sedang menangis meratapi kepergiannya dari balik lemari buku--yang Nolan analogikan buku- buku di lemari tersebut sebagai mesin waktu, perpanjangan tangan dari generasi ke generasi lainnya.

Dari sini Cooper mencoba mengirim pesan kepada anaknya dengan kode morse lewat buku- buku di lemari tersebut. Hantu yang selama ini Cooper mencoba cari tahu ternyata adalah dirinya sendiri.

Di film ini juga Nolan memberikan kisah cinta yang bagi saya cukup menarik. Ada line di mana Amelia mencoba memberi pandangan objektif perihal pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh mereka dalam memilih planet mana yang akan dituju, Love is the one thing that transcends time and space. Dan hanya cinta yang mampu menembus kokohnya tembok ruang dan waktu. Itulah yang Cooper rasakan ketika keinginannya untuk hidup dan kembali ke Bumi didasari rasa sayang kepada kedua anaknya terutama Murph, yang tak mengizinkan ia pergi menjelajah samudra ruang angkasa. 

Dalam film ini Nolan menyuguhi kita dengan visualisasi dan sinematografi yang sangat indah akan ruang angkasa. Ada bagian di mana Nolan memvisualisasikan blackhole dengan sangat baik, yang konon hampir mendekati asli. Tapi bagian favorit saya adalah ketika Endurance melewati Saturnus sebelum masuk menembus wormhole meninggalkan sistem tata surya kita. Visualisasi yang menajubkan dari tim grafis Nolan yang konon menghabiskan waktu render sekitar 100 jam dan kapasitas RAM sebesar 10 tb.

Jika kalian membayangkan fllm ini penuh adegan action seperti film Nolan sebelumnya, maka bersiaplah untuk kecewa. Nolan menghadirkan drama yang unik dalam Interstellar. Drama antar galaksi yang tak terbatas ruang dan waktu.
  
Mengingat banyaknya teori fisika teoritik yang disajikan oleh Nolan dan timnya, sebagai panduan sebelum menonton film ini, ada baiknya membaca buku A brief History of Time karya ilmuwan Stephen Hawking atau film buatan Kip Throne yang juga konsultan sains dalam film ini agar tidak blah- bloh di bioskop nanti.





Wednesday, 5 November 2014

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Judul di atas saya pinjam dari sebuah novel karya Eka Kurniawan dengan judul yang sama. Tak ada korelasi antara novel tersebut dengan rasa rindu yang saya punya. Tapi seperti judulnya, besok rindu ini harus dibayar tuntas.

Sudah lama, lebih dari dua dekade rindu ini selalu berjarak. Nanti, hari Jumat, 7 November 2014, jika tak ada aral melintang rindu ini akan terlampiaskan. 

Jarak selalu jadi bagian perihal rindu- rinduan, kini kita sudah dekat dan jarak bukan lagi soal, besok adalah jarak kita yang paling dekat untuk menuntaskan rindu yang selama 19 tahun tertahan dan terus menggebu ingin dilampiaskan.
Selama ini, saya selalu mendengar cerita- cerita epik di Gelora Bung Karno hanya dari bibir para orang tua yang merasakan kejayaan Persib di era Ligina. Saat itu saya masih terlalu muda untuk merasakan euphoria, perkenalan saya dengan sepak bola baru hadir 2 tahun kemudian. Saat rindu itu baru dimulai. 

Sama seperti sebagian besar warga Bandung lainnya, menjadi bobotoh adalah bawaan DNA, sudah tertanam sejak dari dalam kandungan. Menjadi pemain Persib adalah impian setiap anak kecil di Jawa Barat yang mencintai olah raga sepak bola. Maka dari itu, siapapun yang memakai seragam biru- biru di lapangan sepak bola dan bertanding atas nama Pangeran Biru adalah suatu kehormatan. Maka siapapun yang bertanding atas nama Persib di Jakabaring nanti, tolong jangan sia- siakan kehormatanmu itu. Untuk sekali ini saja, saya mohon menderitalah agar kau dan kami yang senantiasa mendukungmu ini, tahu bagaimana rasanya bertahta. Tahu bagaimana rasanya menjadi juara.

Saya tahu kalian membawa beban yang berat. Banyak harapan dari jutaan bobotoh menggantung di pundak kalian. Tapi besok, jika kalian menang, sejarah akan mencatat nama kalian.

Jika kalian menang dan berhasil membawa pulang Piala Presiden itu ke tanah Pasundan, ada jutaan orang yang akan berterima kasih kepada kalian. Nama kalian akan selalu dikenang, terpatri dalam memori setiap warga Jawa Barat.

Bukan hanya kenangan kalian juga akan dibanjiri bonus yang melimpah. Gelontoran rupiah akan masuk ke dalam rekening tabungan kalian. Tapi saya mohon untuk kali ini saja, bertandinglah atas nama jutaan bobotoh yang selalu mendukung di belakang kalian.  Bukan atas limpahan bonus yang akan kalian dapat. Menderitalah untuk kami yang rindu jadi juara dan saya mohon jangan pernah tukarkan momen itu dengan apapun.

Bagi mereka yang pernah merasakan euporia di tahun 95, ini adalah sebuah kerinduan yang harus dituntaskan. Tapi bagi mereka yang belum pernah merasakan, ini adalah sebuah penantian yang panjang.

Tapi rindu tetaplah rindu, seperti dendam, rindu juga harus dibayar tuntas!


Monday, 27 October 2014

Karena Menulis adalah Mencatat Keabadian

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” - Pramoedya Ananta Toer

Setidaknya begitulah kata Pram. Menulis merupakan suatu proses ekstensialis seseorang. Menulis tidak semudah berbicara, karena dengan menulis, sadar atau tidak, kita sedang mendokumentasikan keabadian.

Saya mulai belajar menulis ketika masih SMP, ada sekitar 16 tulisan yang mejeng di beberapa surat kabar nasional, seperti Pikiran Rakyat dan Kompas. Walau jumlah buku yang dibaca kian banyak dan ngejelimet tapi jumlah tulisan justru mulai berkurang. Perlahan nafsu menulis memudar ketika memasuki masa kuliah. Cuma 2 tulisan yang tembus media nasional dan 3 mejeng di sebuah majalah lokal. Sisanya terbit di blog.

Tapi 3 tahun ke belakang, nafsu itu kembali tumbuh. Twitter membuat saya kembali menulis. Orang- orang seperti mas Hedi, Zen RS, Arman Dhani, Eddward S Kennedy, Pangeran Siahaan dan masih banyak lagi yang membuat saya kembali bergairah dalam menulis. Saya tak pernah peduli siapa yang akan membacanya, yang penting menulis, karena toh tulisan yang baik pasti akan menemukan pembacanya. Seperti kata Zen, jadilah perajin tulisan, bukan penulis. Tulisan yang hadir dengan data dan fakta yang kuat.

Sebelum saya fokus menulis di blog ini, ada beberapa blog yang saya kelola dengan tema yang beragam. Di mulai dari blogger, Tumblr, Myspace, Friendster, notes di Facebook hingga multiply yang kini telah tiada.

Yah, betul, menulis membutuhkan energi, mencari data dan fakta yang akurat adalah salah satu kesulitan di antaranya. Lewat menulis juga saya sering kelimpungan akan dateline dan proyek yang tak kunjung usai yang membuat kuliah terbengkalai. Semenjak ikut serta ke dalam beberapa proyek yang digagas Mas Adi, menulis bagi saya seperti bernafas. Tersiksa oleh sulitnya menemukan data menjadi makanan sehari- hari yang sering dinanti jika proyek sepi. Tapi itu membantu saya dalam menulis dan mencari data skripsi. Walau jujur, cukup malas mengerjakan penulisan hukum yang satu ini.

Saya juga setuju dengan Papap/ Indra Hikmawan Saefullah-- Dosen Hubungan Internasional UNPAD yang juga merupakan eks-gitaris Alone at Last-- menulis dapat membuat suara kita lebih didengar. Jadi, mari menulis, apapun itu, karena dengan menulis kita mencatat keabadian. Dengan menulis suara kalian akan lebih didengar.

Selamat hari Blogger, kawan- kawan!!

note: Mulai bulan depan saya mulai aktif menulis di salah satu digital media start-up nasional!